Sejak 050113, rasa itu kupendam dalam. Aku tak berani lagi melabuhkannya pd siapapun. Aku takut menodai sucinya rasaku (lagi) seperti dulu. Aku takut pd Rabb-ku...Denganmu, entaahlaah kenapa ia bisa berlabuh.
Satu hal, mungkin caraku salah menegurmu. Tak seharusnya uring-uringan. Tak melampiaskan kekesalanku, walau memang aku kesal kau selalu turut campuri langkahku. Aku tak merasa kau mendukungku, tapi membatasi ruang gerakku. Kau memintaku melakukan hal-hal yang kau sukai, tp kau lupa 'kau tak pernah tanyakan apakah aku nyaman dg apa yg kau suka'. Walau, kadang aku berpikir itu caramu menuntunku. Mgkn itu wujud sayang dan perhatianmu. Tapi, sekali aku ingin jujur sebenarnya aku tak bisa menepis egoku jika aku sudah tersinggung. Aku ini begitu labil dan sensitif, hingga sedikit saja kata yg menyinggungku, aku mudah sakit hati. Dan utk menyembunyikan rasa sakit itu aku berusaha mengedepankan ego. Aku tau caraku ini konyol dan tak benar sama sekali. Tp, kau malah menuduhku menginjakmu jika lemah lembutmu justru kubalas dgn sikap kerasku. Padahal, taukah kau? Karang yang kokoh hanya mampu diluluhlantahkan oleh lembutnya air. Bukan berarti air ingin menghabisi (menginjak) batu karang, tapi agar serpihan karang itu menambah indahnya hamparan laut.
Aku tak memintamu memahamiku dgn caraku yg salah. Sungguh aku ingin kau meluruskannya dgn kelembutan dan kesabaranmu. Bersabarlah mencintaiku, bersabarlah menuntut kerasnya hatiku. Tapi, jika bersabar tak mampu kau lakukan, maka pilihan ada ditanganmu. Tetap bersamaku atau tinggalkan aku. Mungkin, naluri seorang ibu itu benar adanya, kelak aku bukanlah orang yg layak mengisi rangkaian episode di hidupmu. Jika meninggalkanku adalah pilihanmu, lakukanlah! Jangan pedulikan aku, jgn prnh sesali prnh mengenalku. Krn mengenalku, mengajarkan arti kesabaran dlm mencintai. Mengenalku, kau mengerti bahwa kau keliru menilai kebaikan itu hanya dr covernya. Kau telah mengenalku bukan??? Aku tak semulia yg dikira, sehingga aku tak pantas dicintai. Hanya orang-orang yg luar biasa SABAR bisa menghadapiku. Aku yakin, di dunia ini masih ada orang2 yg disediakan Allah untukku, menerima kekurangan dan kelemahanku. Orang yang mengajarkan dan menyentuh hatiku dgn bimbingan titah Allah. Pasti adaaa...meskipun mgkin kau bukanlah orang itu.
Setidaknya, aku percaya satu hal, jika benar kau tulus mencintaiku, kau akan datang menemuiku. Jika kedatanganmu belum terlambat, kau akan menemuiku tersenyum menyambutmu. Tapi, jika kau terlambat, kau tak menemuiku ada lagi. Ada dua kemungkinan, aku telah dimilikinya yg luar biasa SABAR atau......aku telaah tiada utk selamanya.
Jika, kemungkinan kedua yg terjadi aku ingin berpesan padamu, "Terima kasih sayang atas cintamu selama ini.. Terima kasih telah mencintaiku dan menjagaku".
Maafkan aku. Maaf dari langit. Jangan pernah lupakan aku, jadikanlah aku bagian dari rangkaian hari dicacatan hatimu.
Khanza
Minggu, 03 November 2013
Senin, 14 Oktober 2013
Resensi Buku : Karena Anda Adalah GENERASI EMAS
Judul Buku : Karena Anda
Adalah Generasi Emas
Penulis : Anggara Novpria Densi
Penerbit : Pustaka Jingga, Surabaya
Cetakan : Pertama, 2013
Ukuran : 14,8 x 21 cm
Tebal : 220 Halaman + xx
Harga : Rp58.000,00-
Karena Anda Adalah Generasi Emas adalah buku perdana yang
ditulis oleh Anggara Novpria Densi. Dalam tiap deret kalimatnya, penulis
mengajak pembaca berpikir, dan mencoba menggugah dengan motivasi melalui
perantara pesan langit (wahyu).
Emas tetaplah akan menjadi emas walau zaman telah berubah dan
waktu terus berputar. Tapi, emas tak akan pernah berkilau jika tak disepuh
dengan kesabaran. Begitulah ibarat generasi abad ke-21 akan redup jika tak
diasah, mereka akan tergerus oleh perubahan zaman. Padahal, merekalah emas
dalam peradaban kelam yang akan bersinar jika menggenggam bara Islam.
Dalam buku ini, penulis merangkai pemaparan motivasi
ruhiyahnya dalam 12 bab yang meyakinkan pembaca bahwa mereka adalah generasi
emas. Dari 12 bab tersebut, setidaknya penulis ingin menjabarkan 6 pesan penting bagi pembaca agar mengartikan
hidup tak mengalir bak sungai. Jika diumpamakan bahwa hidup bagai lampu di dinding jika
minyak habis, maka lampu pun akan padam sendiri. Orang beriman tidak pernah
mempermasalahkan kapan lampu itu akan padam, yang perlu difikirkan adalah apa
yang dapat diwujudkan sebelum lampu padam.
Dalam
pesan pertama, penulis menggambarkan sebuah “Cermin Kehidupan” umat Islam yang semula merupakan cikal bakal
kebangkitan mereka dari tatanan hidup jahiliyah. Dimana kata jahiliyah yang
dulu tersemat karena ketidakmauan mereka peduli pada Sang Khaliq, tapi akhirnya
mereka terjerembab dalam jerat jahiliyah modern yang telah meruntuhkan puing-puing
kemuliaan peradaban yang susah payah dibangun oleh teladan agung, Rasulullah
Shallahu ‘Alayhi wa Sallam.
Dalam pesan kedua, pembaca diajak
berpikir tentang “Tujuan Kehidupan”
pasti akan kembali pada tujuan yang merupakan titik akhir kehidupan. Disinilah
lahirnya sebuah generasi idaman yaitu generasi yang akan berdiri tegar laksana
batu karang meskipun sang ombak berkali-kali menerjang dan menghujam setiap
perjalanan hidupnya, dia akan tetap mampu memandang jalan hidupnya laksana
purnama meskipun berkali-kali awan gelap membutakan pandangannya, dia tidak akan
merasa takut dengan segala bentuk keterasingan laksana bintang meskipun
berlapis-lapis langit mengucilkan cahayanya dari kehidupan ini.
Dalam pesan ketiga, penulis menyadarkan bahwa tak akan mungkin tiba di
tujuan jika seorang pengembara tak membawa “Bekal Kehidupan” untuk mencapai tujuannya. Bekal yang digenggam
haruslah sebuah ruh ideologi Islam nan shahih disertai quwwah ruhiyah (motivasi
ruhiyah) yang tak pernah melihat kemenangan dari apa yang tampak oleh mata,
tapi dari keyakinan akan pesan langit dari al-Khaliq.
Dalam pesan keempat, penulis
mengingatkan lagi bahwa pengembara selain mempersiapkan bekal, ia juga harus
membawa sebuah “Peta Perjalanan” agar
tak tersesat dalam perjalanannya. Penulis mengajak pembaca berpikir, bahwa kini
mereka hidup dalam bahtera yang dikendalikan seorang nakhoda yang tidak tahu
arah tujuan dalam mengarungi lautan kehidupan. Hingga para nakhoda itu membawa
bahtera ke tengah badai penderitaan dan menuju lembah kehancuran.
Setelah digambarkan persiapan
yang komplit tersebut, pada pesan kelima penulis kembali mengajak pembaca
melihat bahwa “Medan Perjalanan”
yang ditempuh tidaklah mulus. Disini dijabarkan bahwa mereka berada di sebuah
zaman fitnah yang jika tak hati-hati maka akan tergelincir dalam pemikiran
pragmatis dan akhirnya tertipu olehnya.
Untuk menghadapi medan perjalanan
tadi, penulis diakhir pesannya mengajak sang pengembara atau calon generasi
emas menyambut sebuah “Seruan Mulia”
dari titah langit agar kakinya tetap kokoh berpijak dan tetap menggenggam ruh ideologi
Islam. Ini karena mereka sedang membangun pondasi peradaban emas yang pernah
diruntuhkan. Tak mudah, maka dengannya penulis menyatakan “La Tahzan” agar langkah yang telah dimulai tak berbalik atau
terhenti di tengah perjalanan. Generasi emas yang terpilih adalah mereka yang
tangguh, atas ketangguhannya itulah ia layak “Meraih Tempat Terhormat” disisi Rabb-nya yaitu Syurga yang abadi
sebagai negeri tujuan perjalanan. Mereka beroleh singgasana yang tak akan
didapatkan kecuali dengan ujian dan cobaan. Bersabarlah, dan berjuanglah!
Dengan demikian, buku ini sangat
direkomendasikan bagi remaja dan pemuda muslim yang menginginkan tujuan hidup
yang hakiki dan kehidupanya berjalan di atas jalan keberkahan dan kemuliaan.
InsyaAllah,akan menjadi bekal pemikiran untuk kebangkitan Islam di muka bumi.
BUKU INI TERBIT DAN BEREDAR DI PASARAN
NOVEMBER 2013, InsyaAllah!
Oleh
: Al-Khanza Demolisher
*Resensator
adalah Konsultan-IKM Kemenperin RI
Senin, 12 Agustus 2013
Pilihan-Mu Terbaik
Aku
bukan bidadari pemilik jagatraya
Pun
bukan permaisuri yang bertahta di
singgasana
Hatiku tak selembut sutra
Lisanku
tak memukau yang meghipnotismu
Aku
tak semulia Khadijah binti Khuwailid
Tak setaat Fatimah az-Zahra
binti Muhammad SAW
Tak secerdas Aisyah
binti Abu Bakar atau
Tak setegar Sumayyah
binti Khayyat,
Ku
hanya berusaha mengikuti jejak mereka
Kala
langit berwarna tembikar, keras dan kusam
Sang
Khaliq kerap melukis harap dalam bayangku
Sesosok
yang telah dijanjikan-Nya
Entah
siapa dia, aku tak tahu dan tak akan mau tahu
Sampai
dipertemukan di mitsaqon ghaliza
Dan
kini ku impikan pada rasa yang padat
Bukan
sebuah pelarian atau hujatan
Tapi
merajut mimpi baru
Untuk
sebuah mahligai yang diridhoi-Nya
Ku
tak menggenggam setitik dendam pun
Padamu
yang mengabaikan harapku
Berlabuhlah
dihati yang kau terpaut akannya
Sebab
mungkin bahagiamu adalah senyumnya
Aku…
Sampai
kapanpun tak akan memikirkannya
Dia
juga tak perlu memikirkanku
Tapi
kau…sosokmu
Tak
jengahkah menghantui malam-malamku?
Tak puaskah telah menyibak tabir hidupku?
Tak puaskah telah menyibak tabir hidupku?
Enyahlah…bungkam
kisah kita
Dia…
Ya,
sosoknya yang berkelebat di benakku
Dia
yang akan coba menata pelangi hatiku
Menuturkan
bahasa cinta
Tak
dengan hardikan
Pun
makian nan meluluhlantahkan harap
Ia
hadir dengan kata “Ijab qabul!
Rabu, 07 Agustus 2013
Bunga Penebar Cinta
Dalam
letih ku menatap sebuah kehidupan
Hampir
ku kehilangan asa dan berhenti melangkah
Merasa
tak pantas tegak di bumi
Sebab
menggunungnya dosa
Tapi
secercah cahaya itu datang
Menyentuh
qolbu yang telah lama mati
Menggugah
akal yang lama tak berfungsi
Membangunkan
raga yang kian tertidur
Cahaya
itu adalah Islam
Menghangatkan
kala dingin
Menyejukkan
kala gersang
Memberi
titik terang tiap masalah
Beriring
dengan cahaya itu
Hadir
bunga-bunga penabur semangat
Kau
yang berhati lembut
Penuh
keikhlasan dan ketegaran
Tegas
pada penentang Rabb-nya
Tunduk
pada perintah Rabb-nya
Bunga-bunga
itu menabur makna
Dalam derap langkah perjuangannya
Nikmat
Islam yang mencerahkan
Membuka
cakrawala dunia dengan kemilaunya
Saat
kebenaran dipertaruhkan dengan
kebathilan
Hadir
ditengah hiruk pikuk kebohongan
Menerangkan
sebuah persepsi kebenaran
Dari
merajalelanya kejahiliyahan
Simpang
siurnya yang halal dan haram
Itulah
Islam, memurnikan yang berkarat
Untukmu
wahai bunga-bunga penebar cinta Ilahi
Terima
kasih atas cinta yang terselip dihatimu
Yang
tak silau dengan carut marutnya dunia
Kau
kerahkan segenap daya upaya
Terima
kasih atas setiap nasihatmu
Ketika
khilaf meraja dan futur menerpa
Kau
hadir dengan sebait cinta
Cinta
yang tak terbalas dengan sebongkah emas atau dinar
Untukmu
bunga-bunga penebar cinta
Semoga
aku pun kamu
Dihimpun
Allah dalam bagian orang-orang yang beruntung
Dipertemukan
di syurga-Nya seluas langit dan bumi
:: Love you tetehku :'(
Rekam Jejak
Sesak...
Saat deret waktu telah berlalu
Puing-puing sesal menggerogoti qalbu
Saat bonus mulia berlalu sia-sia
Jejak itu tak tinggalkan bekas
Kecuali hanya 'menyesal'
Waktu...
Putarannya tak bisa diulang
Jejak apapun akan terekam
Betapa aku malu...
Jika jejak itu sebuah noktah hitam
Membekas, menusuk relung, menyisa tangis
Namun tiadalah bisa diubah kecuali dengan kepasrahan
Pasrah dan kembali ke titik nol
Menghamba serendah-rendahnya pada Sang Khaliq
Rekaman jejakku...
Aku malu menoleh padanya
Sebab banyak hal yang sungguh telah memenjarakan sisi gelapku
Harusnya mampu menelanjangi egoku
Meluluhlantakkan keangkuhanku
Tapi, kian kecil dan tertinggalnya langkahku
Sekali lagi....aku malu....
Malu pada mereka
Mereka yang melangkah seribu jarak dari titik ku berdiri
Mereka yang berlari bahkan terengah-engah mencapai puncak
Sementara aku....
Mendongak dari titik terendah
Berharap "Allah, peganglah tanganku mencapai puncaknya."
Waktu....
Sungguh cepat kau berlalu...
Walau...kau mengubah sedikit sisi gelapku jadi remang
Tapi, inginku gelap itu jadi berkas sinar
Hadirku...bukan cerca pun cela
Tapi rahmat bagi mereka....
Kembalikan aku dalam dekap-Mu
29 Ramadhan 1434 H/ 1 Syawal 1434 H
Di penghujung malam sang Dhoif menghiba kasih-Nya
Sidikalang, Sumut
Saat deret waktu telah berlalu
Puing-puing sesal menggerogoti qalbu
Saat bonus mulia berlalu sia-sia
Jejak itu tak tinggalkan bekas
Kecuali hanya 'menyesal'
Waktu...
Putarannya tak bisa diulang
Jejak apapun akan terekam
Betapa aku malu...
Jika jejak itu sebuah noktah hitam
Membekas, menusuk relung, menyisa tangis
Namun tiadalah bisa diubah kecuali dengan kepasrahan
Pasrah dan kembali ke titik nol
Menghamba serendah-rendahnya pada Sang Khaliq
Rekaman jejakku...
Aku malu menoleh padanya
Sebab banyak hal yang sungguh telah memenjarakan sisi gelapku
Harusnya mampu menelanjangi egoku
Meluluhlantakkan keangkuhanku
Tapi, kian kecil dan tertinggalnya langkahku
Sekali lagi....aku malu....
Malu pada mereka
Mereka yang melangkah seribu jarak dari titik ku berdiri
Mereka yang berlari bahkan terengah-engah mencapai puncak
Sementara aku....
Mendongak dari titik terendah
Berharap "Allah, peganglah tanganku mencapai puncaknya."
Waktu....
Sungguh cepat kau berlalu...
Walau...kau mengubah sedikit sisi gelapku jadi remang
Tapi, inginku gelap itu jadi berkas sinar
Hadirku...bukan cerca pun cela
Tapi rahmat bagi mereka....
Kembalikan aku dalam dekap-Mu
29 Ramadhan 1434 H/ 1 Syawal 1434 H
Di penghujung malam sang Dhoif menghiba kasih-Nya
Sidikalang, Sumut
Langganan:
Postingan (Atom)