Embun itu kamu....
Menyejukkan, menenangkan dan mendamaikan hatiku....
Sampai kapan pun, sudah kukatakan aku tak mampu merangkai kata.
Aku akan selalu diam dan mendengarkanmu jika aku salah. Aku tak lagi mau membantah, karena aku khawatir jika kemarahanku karena ego bukan atas landasan yang benar.
Suatu saat, aku akn belajar bisa berbicara di depanmu. Sehingga aku bisa mengeluarkan semua isi hatiku di depanmu. Tanpa kamu harus membaca tulisanku. Mungkin, lebih menyakitkan bagimu jika tak mendengarnya langsung. Untuk saat ini, kumohon pahami aku dan bersabarlah dengan sikapku.
Jika disebut manusiawi, aku pun tak berani menyatakan begitu. Karena, seharusnya aku bisa lebih bijak bicara. Hanya saja, sekarang kondisi hatiku benar2 sedang tidak nyaman. Apa ini ujian? Aku jg tak berani selantang itu berujar.
Setidaknya, biarlah aku berpikir lebih matang. Memang, semua ini keputusan dan pilihanku. Tapi, tak bisa kupungkiri jika aku lakukan semua ini karena pertimbangan yg benar2 diluar logikaku sbg hamba. Semoga Allah mengampuniku jika kamu merasa tersakiti dalam kondisi ini.
Aku hanya berharap pada Allah, agar Dia menjagaku dari kecamuk hati yg erat2 kusimpan. Semuanya terlambat, bahkan saat belum dimulai sekalipun.
Doakan aku, suatu saat aku bisa berubah, aku bisa kembali menjadi diriku yang dulu. Fokus dan serius pd satu hati saja. Aku tahu ini tak pantas, tp ini hanya sementara.
Hamba-Nya yg Dhoif
SDK, 10 Mei 2014
11.22 WIB
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Mei 2014
Rabu, 22 Mei 2013
Don't Judge My Hijab
Winda adalah salah satu
mahasiswa di Universitas Andalas Padang. Tak banyak yang ku tahu kisahnya.
Namun, beberapa kali bersua dengannya dalam forum Open House membuatku belajar
bersyukur. Ia lebih dulu menyempurnakan hijabnya daripada aku. Jauh-jauh hari
ketika masih SMA, ia telah berhijab. Hingga kuliah ia masih terbelenggu amarah
orangtuanya. Jika sedikit saja ia khilaf atau lalai dalam mengurusi pekerjaan
rumah, ibunya lantas menyalahkan hijabnya. Alasannya hijab telah menghambat
tugasnya untuk membantu ibunya.
Setiap kali ia
bercerita tentang masa-masa pertama mengenakan hijab, air matanya kerap
membanjiri jilbabnya. Sungguh tegar ia bertahan dibalik cercaan, cemoohan,
bahkan ancaman orangtuanya. Satu hal yang mungkin sulit diterima, ketika kita
akan menggugurkan suatu kewajiban agama malah ditentang orangtua dan terancam
diusir. Tak semua anak mampu bertahan dalam kondisi pelik itu, kebanyakan
mereka lebih suka menanggalkan hijabnya. Mereka lebih memilih ridho manusia
daripada ridho Allah. Berhijab bukan bentuk membangkang tapi wujud cinta pada
kedua orangtua.
Winda memang berbeda.
Ketegarannya telah mampu meluluhkan hati orangtuanya. Pengalaman pertamanya
berhijab mendapat protes yang hebat dari ibunya. Jika ia tak menanggalkan hijab
itu, maka ibunya akan mengusirnya. Winda mencari strategi agar ia tidak
menanggalkan hijabnya. Akhirnya ia putuskan, ketika berangkat sekolah ia pakai
seragam biasa, setibanya di sekolah ia menukar seragamnya dengan hijab.
Begitulah beberapa kali Winda berhasil melancarkan aksinya untuk tetap
berhijab.
Suatu hari, aksi Winda
ketahuan oleh ibunya. Saat itu juga semua hijab Winda dibakar tak satupun
tersisa kecuali yang melekat ditubuhnya. Waktu itu ia sedang mengaji dengan
teman-temannya. Winda tersadar kehilangan semua hijabnya saat hendak keluar
rumah keesokan harinya. Dengan hati-hati dan wajah tak berdosanya ia tanyakan
pada ibunda. Namun bundanya malah menggertaknya dan mengancam tak boleh
mengenakan lagi. Tumpah ruah tangis Winda, seakan dunia dirasa begitu gelap.
Tapi ia kembali sadar bukankah itu sebuah ujian dan cobaan dari-Nya?
Seiring waktu, semakin
bertambah tsaqofahnya. Winda mampu menuturkan dengan lemah lembut kewajiban
hijab pada ibunya. Saat itu ia terserang penyakit yang membuat rasa sayang
ibunya padanya tak terbendung jika akan kehilangan putri satu-satunya. Kini,
Winda sudah menjadi distributor hijab di Padang. Kisahnya menyadarkanku untuk
tetap istiqomah membalut tubuhku dengan hijab atas perintah-Nya. InsyaAllah []
Rabu, 23 Januari 2013
Ikrimah Bi Abu Jahal (Sahabat Nabi)
Abu Ishaw As-Ayabi'i
meriwayatkan, ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan kota Makkah, maka
Ikrimah berkata: Aku tidak akan tinggal di tempat ini!" Setelah berkata
demikian, dia pun pergi berlayar dan memerintahkan supaya isterinya
membantunya. Akan tetapi isterinya berkata: "Hendak kemana kamu wahai
pemimpin pemuda Quraisy?" Apakah kamu akan pergi kesuatu tempat yang tidak
kamu ketahui?" Ikrimah pun melangkahkan kakinya tanpa sedikitpun
memperhatikan perkataan isterinya.
Ketika Rasulullah SAW
bersama para sahabat lainnya telah berhasil menaklukkan kota Makkah, maka
kepada Rasulullah isteri Ikrimah berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya
Ikrimah telah melarikan diri ke negeri Yaman karena ia takut kalau-kalau kamu
akan membunuhnya. Justeru itu aku memohon kepadamu supaya engkau berkenan
menjamin keselamatannya."
Rasulullah SAW
menjawab: "Dia akan berada dalam keadaan aman!" Mendengar jawapan
itu, maka isteri Ikrimah memohon diri dan pergi untuk mencari suaminya.
Akhirnya dia berhasil menemukannya di tepi pantai yang berada di Tihamah.
Ketika Ikrimah menaiki kapal, maka orang yang mengemudikan kapal tersebut
berkata kepadanya: "Wahai Ikrimah, ikhlaskanlah saja!"
Ikrimah bertanya:
"Apakah yang harus aku ikhlaskan?"
"Ikhlaskanlah
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan akuilah bahwa Muhammad adalah utusan
Allah!" Kata pengemudi kapal itu. Ikrimah menjawab:
"Tidak, jesteru aku melarikan diri adalah karena ucapan itu."
Selepas itu datanglah
isterinya dan berkata: "Wahai Ikrimah putera bapa saudaraku, aku datang
menemuimu membawa pesan dari orang yang paling utama, dari manusia yang paling
mulia dan manusia yang paling baik. Aku memohon supaya engkau jangan
menghancurkan dirimu sendiri. Aku telah memohonkan jaminan keselamatan untukmu
kepada Rasulullah SAW."
Kepada isterinya
Ikrimah bertanya: "Benarkah apa yang telah engkau lakukan itu?"
Isterinya menjawab:
"Benar, aku telah berbicara dengan baginda dan baginda pun akan memberikan
jaminan keselamatan atas dirimu." Begitu saja mendengar berita gembira
dari isterinya itu, pada malam harinya Ikrimah bermaksud untuk melakukan persetubuhan
dengan isterinya, akan tetapi isterinya menolaknya sambil berkata: "Engkau
orang kafir, sedangkan aku orang Muslim."
Kepada isterinya
Ikrimah berkata: "Penolakan kamu itu adalah merupakan suatu masalah besar
bagi diriku."
Tidak lama selepas
Ikrimah bertemu dengan isterinya itu, mereka pun pulang kembali, setelah
mendengar berita bahwa Ikrimah sudah pulang, maka Rasulullah SAW segera ingin
menemuinya. Karena rasa kegembiraan yang tidak terkira, sehingga membuatkan
Rasulullah SAW terlupa memakai serbannya.
Setelah bertemu dengan
Ikrimah, baginda pun duduk. Ketika itu Ikrimah berserta dengan isterinya berada
di hadapan Rasulullah SAW Ikrimah lalu berkata: "Sesungguhnya aku bersaksi
bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah
utusan Allah." Mendengar ucapan Ikrimah itu, Rasulullah SAW sangat merasa
gembira, selanjutnya Ikrimah kembali berkata: "Wahai Rasulullah,
ajarkanlah sesuatu yang baik yang harus aku ucapkan."
Rasulullah SAW
menjawab: "Ucapkanlah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah
dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya.
Ikrimah kembali
bertanya: "Selepas itu apa lagi?" Rasulullah menjawab:
"Ucapkanlah sekali lagi, aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan
melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah
hamba-Nya dan Rasul-Nya." Ikrimah pun mengucapkan apa yang dianjurkan oleh
Rasulullah SAW selepas itu baginda bersabda: "Jika
sekiranya pada hari ini kamu meminta kepadaku sesuatu sebagaimana yang telah
aku berikan kepada orang lain, niscaya aku akan
mengabulkannya."
Ikrimah berkata:
"Aku memohon kepadamu ya Rasulullah, supaya engkau berkenan memohonkan
ampunan untukku kepada Allah atas setiap permusuhan yang pernah
aku lakukan terhadap dirimu, setiap perjalanan yang aku lalui untuk
menyerangmu, setiap yang aku gunakan untuk melawanmu dan setiap
perkataan kotor yang aku katakan di hadapan atau di belakangmu."
Maka Rasulullah SAW pun
berdoa: "Ya Allah, ampunilah dosanya atas setiap permusuhan yang pernah
dilakukannya untuk bermusuh denganku, setiap langkah perjalanan yang dilaluinya
untuk menyerangku yang tujuannya untuk memadamkan cahaya-Mu dan ampunilah
dosanya atas segala sesuatu yang pernah dilakukannya baik secara langsung
berhadapan denganku mahupun tidak."
Mendengar doa yang
dimohon oleh Rasulullah SAW itu, alangkah senangnya hati Ikrimah, maka ketika
itu juga ia berkata: "Ya Rasulullah! Aku bersumpah demi Allah, aku tidak
akan membiarkan satu dinar pun biaya yang pernah aku gunakan untuk melawan
agama Allah, melainkan akan aku ganti berlipat ganda demi membela agama-Nya.
Begitu juga setiap perjuangan yang dahulu aku lakukan untuk melawan agama
Allah, akan aku ganti dengan perjuangan yang berlipat ganda demi membela
agama-Nya, aku akan ikut berperang dan berjuang sampai ke titisan darah yang
terakhir."
Demikianlah keadaan
Ikrimah, setelah ia memeluk Islam, ia sentiasa ikut dalam peperangan hingga
akhirnya ia terbunuh sebagai syahid. Semoga Allah berkenan melimpahkan kurnia
dan rahmat-Nya kepada Ikrimah. Dalam riwayat yang lain pula diceritakan, bahwa
ketika terjadinya Perang Yarmuk, Ikrimah juga ikut serta berperang sebagai
pasukan perang yang berjalan kaki, pada waktu itu Khalid bin Walid mengatakan:
"Jangan kamu lakukan hal itu, karena bahaya yang akan menimpamu adalah
lebih besar!" Ikrimah menjawab: "Karena kamu wahai Khalid telah
terlebih dahulu ikut berperang bersama Rasalullah SAW, maka biarlah hal ini aku
lakukan!"
Ikrimah tetap
meneruskan niatnya itu, hingga akhirnya ia gugur di medan perang. Pada waktu
Ikrimah gugur, ternyata di tubuhnya terdapat lebih kurang tujuh puluh luka
bekas tikaman pedang, tombak dan anak panah. Abdullah bin Mas'ud pula berkata:
Di antara orang-orang yang termasuk dalam barisan Perang Yarmuk adalah Haris
bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amar. Di saat-saat kematian
mereka, ada seorang sahabat yang memberinya air minum, akan tetapi mereka
menolaknya. Setiap kali air itu akan diberikan kepada salah seorang dari mereka
yang bertiga orang itu, maka masing-masing mereka berkata: "Berikan saja
air itu kepada sahabat di sebelahku." Demikianlah keadaan mereka
seterusnya, sehingga akhirnya mereka bertiga menghembuskan nafas yang terakhir
dalam keadaan belum sempat meminum air itu.
Dalam riwayat yang lain
pula ditambahkan: "Sebenarnya Ikrimah bermaksud untuk meminum air
tersebut, akan tetapi pada waktu ia akan meminumnya, ia melihat ke arah Suhail
dan Suhail pun melihat ke arahnya pula, maka Ikrimah berkata: "Berikanlah
saja air minum ini kepadanya, barangkali ia lebih memerlukannya
daripadaku." Suhail pula melihat kepada Haris, begitu juga Haris melihat
kepadanya. Akhirnya Suhail berkata: "Berikanlah air minum ini kepada siapa
saja, barangkali sahabat-sahabatku itu lebih memerlukannya daripadaku."
Begitulah keadaan mereka, sehingga air tersebut tidak seorangpun di antara
mereka yang dapat meminumnya, sehingga mati syahid semuanya. Semoga Allah
melimpahkan kurnia dan rahmat-Nya kepada mereka bertiga. Aamiin."
Fathimah az-zahra dan Gilingan Gandum
Suatu hari masuklah
Rasulullah SAW menemui anandanya Fathimah az-zahra rha. Didapatinya anandanya
sedang menggiling syair (sejenis padi-padian) dengan menggunakan sebuah
penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasulullah SAW bertanya pada
anandanya, "apa yang menyebabkan engkau menangis wahai Fathimah?, semoga
Allah SWT tidak menyebabkan matamu menangis".
Fathimah rha. berkata,
"ayahanda, penggilingan dan urusan-urusan rumahtanggalah yang menyebabkan
ananda menangis". Lalu duduklah Rasulullah SAW di sisi anandanya. Fathimah
rha. melanjutkan perkataannya, "ayahanda sudikah kiranya ayahanda meminta
'aliy (suaminya) mencarikan ananda seorang jariah untuk menolong ananda
menggiling gandum dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah".
Mendengar
perkataan anandanya ini maka bangunlah Rasulullah SAW mendekati penggilingan
itu. Beliau mengambil syair dengan tangannya yang diberkati lagi mulia dan
diletakkannya di dalam penggilingan tangan itu seraya diucapkannya
"Bismillaahirrahmaanirrahiim". Penggilingan tersebut berputar dengan
sendirinya dengan izin Allah SWT. Rasulullah SAW meletakkan syair ke dalam
penggilingan tangan itu untuk anandanya dengan tangannya sedangkan penggilingan
itu berputar dengan sendirinya seraya bertasbih kepada Allah SWT dalam berbagai
bahasa sehingga habislah butir-butir syair itu digilingnya.
Rasulullah SAW berkata
kepada gilingan tersebut, "berhentilah berputar dengan izin Allah
SWT", maka penggilingan itu berhenti berputar lalu penggilingan itu
berkata-kata dengan izin Allah SWT yang berkuasa menjadikan segala sesuatu
dapat bertutur kata. Maka katanya dalam bahasa Arab yang fasih, "ya
Rasulullah SAW, demi Allah Tuhan yang telah menjadikan baginda dengan kebenaran
sebagai Nabi dan Rasul-Nya, kalaulah baginda menyuruh hamba menggiling syair
dari Masyriq dan Maghrib pun niscaya hamba gilingkan semuanya. Sesungguhnya
hamba telah mendengar dalam kitab Allah SWT suatu ayat yang berbunyi :
(artinya)
"Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para malaikat yang kasar, yang
keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang dititahkan-Nya kepada
mereka dan mereka mengerjakan apa yang dititahkan".
Maka hamba takut, ya
Rasulullah kelak hamba menjadi batu yang masuk ke dalam neraka. Rasulullah SAW
kemudian bersabda kepada batu penggilingan itu, "bergembiralah karena
engkau adalah salah satu dari batu mahligai Fathimah az-zahra di dalam
sorga". Maka bergembiralah penggilingan batu itu mendengar berita itu
kemudian diamlah ia.
Rasulullah SAW bersabda
kepada anandanya, "jika Allah SWT menghendaki wahai Fathimah, niscaya
penggilingan itu berputar dengan sendirinya untukmu. Akan tetapi Allah SWT
menghendaki dituliskan-Nya untukmu beberapa kebaikan dan dihapuskan oleh Nya
beberapa kesalahanmu dan diangkat-Nya untukmu beberapa derajat. Ya Fathimah,
perempuan mana yang menggiling tepung untuk suaminya dan anak-anaknya, maka
Allah SWT menuliskan untuknya dari setiap biji gandum yang digilingnya suatu
kebaikan dan mengangkatnya satu derajat.
Ya Fathimah perempuan
mana yang berkeringat ketika ia menggiling gandum untuk suaminya maka Allah SWT
menjadikan antara dirinya dan neraka tujuh buah parit. Ya Fathimah, perempuan
mana yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir rambut mereka dan mencuci
pakaian mereka maka Allah SWT akan mencatatkan baginya ganjaran pahala orang
yang memberi makan kepada seribu orang yang lapar dan memberi pakaian kepada
seribu orang yang bertelanjang. Ya Fathimah, perempuan mana yang menghalangi
hajat tetangga-tetangganya maka Allah SWT akan menghalanginya dari meminum air
telaga Kautshar pada hari kiamat.
Ya Fathimah, yang lebih
utama dari itu semua adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jikalau suamimu
tidak ridha denganmu tidaklah akan aku do'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui
wahai Fathimah bahwa ridha suami itu daripada Allah SWT dan kemarahannya itu
dari kemarahan Allah SWT?. Ya Fathimah, apabil seseorang perempuan mengandung
janin dalam rahimnya maka beristighfarlah para malaikat untuknya dan Allah SWT
akan mencatatkan baginya tiap-tiap hari seribu kebaikan dan menghapuskan
darinya seribu kejahatan.
Apabila ia mulai sakit
hendak melahirkan maka Allah SWT mencatatkan untuknya pahala orang-orang yang
berjihad pada jalan Allah yakni berperang sabil. Apabila ia melahirkan anak
maka keluarlah ia dari dosa-dosanya seperti keadaannya pada hari ibunya
melahirkannya dan apabila ia meninggal tiadalah ia meninggalkan dunia ini dalam
keadaan berdosa sedikitpun, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari
taman-taman sorga, dan Allah SWT akan mengkaruniakannya pahala seribu haji dan
seribu umrah serta beristighfarlah untuknya seribu malaikat hingga hari kiamat.
Perempuan mana yang
melayani suaminya dalam sehari semalam dengan baik hati dan ikhlas serta niat
yang benar maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya semua dan Allah SWT akan
memakaikannya sepersalinan pakaian yang hijau dan dicatatkan untuknya dari
setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya seribu kebaikan dan
dikaruniakan Allah untuknya seribu pahala haji dan umrah. Ya Fathimah,
perempuan mana yang tersenyum dihadapan suaminya maka Allah SWT akan
memandangnya dengan pandangan rahmat.
Ya Fathimah perempuan
mana yang menghamparkan hamparan atau tempat untuk berbaring atau menata rumah
untuk suaminya dengan baik hati maka berserulah untuknya penyeru dari langit
(malaikat), "teruskanlah 'amalmu maka Allah SWT telah mengampunimu akan
sesuatu yang telah lalu dari dosamu dan sesuatu yang akan datang". Ya
Fathimah, perempuan mana yang meminyak-kan rambut suaminya dan janggutnya dan
memotongkan kumisnya serta menggunting kukunya maka Allah SWT akan memberinya
minuman dari sungai-sungai sorga dan Allah SWT akan meringankan
sakarotulmaut-nya, dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari
taman-taman sorga seta Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka dan
selamatlah ia melintas di atas titian Shirat".
Mangkuk yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut
Rasulullah SAW, dengan
sahabat-sahabatnya Abakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan 'Ali r.a., bertamu
ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri
Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah
mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut
terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua
sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut
(Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
Abubakar r.a. berkata,
"iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman
itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti
sehelai rambut".
Umar r.a. berkata,
"kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu
lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti
sehelai rambut".
Utsman r.a. berkata,
"ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut
ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu
lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
'Ali r.a. berkata,
"tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu
lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya
adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".
Fatimah r.ha.berkata,
"seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita
yang ber-purdah itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita
yangtak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti
sehelai rambut".
Rasulullah SAW berkata,
"seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari
mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari
madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai
rambut".
Malaikat Jibril AS
berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah
mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih
manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit
dari meniti sehelai rambut".
Allah SWT berfirman,
" Sorga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku
itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari
meniti sehelai rambut".
Bidadari Untuk Umar bin Khattab ra
Umar r.a. adalah salah
satu dari sahabat Rasulullah SAW. Semenjak ia memeluk islam kaum muslimin
seakan memperoleh suatu kekuatan yang sangat besar. Sejak itulah mereka berani
sholat dan thowaf dika'bah secara terang-terangan. Umar r.a. adalah seorang
yang waro', ia sangat teliti dalam mengamalkan Islam. Umar r.a. mempelajari
surah Al-Baqoroh selama 10 tahun, ia kemudian melapor kepada Rasulullah SAW,
"wahai Rasulullah SAW apakah kehidupanku telah mencerminkan surah Al-Baqoroh,
apabila belum maka aku tidak akan melanjutkan ke surah berikutnya".
Rasulullah SAW menjawab, "sudah..."!. Umar r.a. mengamalkan agama
sesuai dengan kehendak Allah SWT. Karena kesungguhannya inilah maka banyak ayat
di Al-Qur'an yang diturunkan Allah SWT berdasarkan kehendak yang ada pada
hatinya, seperti mengenai pengharaman arak, ayat mengenai hijab, dan beberapa
ayat Al-Qur'an lainnya.
Rasulullah SAW
seringkali menceritakan kepada para sahabatnya mengenai perjalannya mi'raj
menghadap Allah SWT. Beliau SAW sering pula menceritakan bagaimana keadaan
surga yang dijanjikan Allah SWT kepada sahabat-sahabatnya. Suatu hari ketika
Rasulullah SAW dimi'rajkan menghadap Allah SWT malaikat Jibril AS
memperlihatkan kepada Beliau SAW taman-taman surga. Rasulullah SAW melihat ada
sekumpulan bidadari yang sedang bercengkrama. Ada seorang bidadari yang begitu
berbeda dari yang lainnya. Bidadari itu menyendiri dan tampak sangat pemalu.
Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril AS, "wahai Jibril AS bidadari
siapakah itu"?
Malaikat Jibril AS menjawab, "Bidadari itu adalah
diperuntukkan bagi sahabatmu Umar r.a.". Pernah suatu hari ia membayangkan
tentang surga yang engkau ceritakan keindahannya. Ia menginginkan untuknya
seorang bidadari yang berbeda dari bidadari yang lainnya. Bidadari yang
diinginkannya itu berkulit hitam manis, dahinya tinggi, bagian atas matanya
berwarna merah, dan bagian bawah matanya berwarna biru serta memiliki sifat
yang sangat pemalu. Karena sahabat-mu itu selalu memenuhi kehendak Allah SWT
maka saat itu juga Allah SWT menjadikan seorang bidadari untuknya sesuai dengan
apa yang dikehendaki hatinya".
Langganan:
Postingan (Atom)